top of page
KLMSY New logO-02_edited.png
KLMSY New logO-02_edited.png

Rebranding vs Repositioning: Mana yang Sebenarnya Dibutuhkan Brand Kamu?

  • Writer: KLMSY Digital
    KLMSY Digital
  • May 13, 2025
  • 3 min read

Rebranding vs Repositioning
Perlu ganti logo atau ganti angle komunikasi?

Kamu mungkin pernah ngalamin ini: brand kamu kelihatan keren, desainnya solid, tone-nya konsisten. Tapi lama-lama kamu ngerasa kayak lagi jalan di tempat. Campaign kurang berhasil, pertumbuhan audiens mulai datar, dan tim makin bingung harus bikin gebrakan apa lagi.


Lalu muncullah ide: “Gimana kalau kita rebranding aja?”


Tapi, tunggu dulu. Apa memang perlu ganti identitas visual, atau sebenarnya kamu butuh repositioning?


Banyak brand buru-buru rebranding ketika merasa stuck, padahal yang mereka butuh bukan ganti tampilan, tapi ganti arah.


Rebranding vs Repositioning: Bedanya di Mana?


Rebranding biasanya fokus ke perubahan tampilan visual dan elemen identitas seperti logo, warna, desain, tone, packaging, sampai gaya komunikasi. Tujuannya untuk menyegarkan tampilan supaya relevan lagi di mata audiens.


Sementara itu, repositioning arahnya lebih ke dalam. Ia menyentuh ulang esensi brand kamu. Mulai dari siapa target audience-mu sebenarnya, value apa yang paling kuat dan relevan, sampai narasi apa yang harus dikomunikasikan supaya positioning kamu jelas di pasar.


Kalau diibaratkan manusia:

Rebranding itu makeover (baju, gaya rambut, gaya bicara).

Repositioning itu introspeksi (menggali lebih dalam, evaluasi arah, dan redefinisi tujuan).


Makanya, repositioning sering kali dianggap lebih berat tapi juga lebih impactful.


Kenapa Banyak Brand Salah Fokus?


Karena yang paling gampang dilihat adalah tampilan luar. Ketika engagement turun atau pertumbuhan lambat, kita cenderung menyalahkan desain, tone, atau tampilan feed. Padahal, masalahnya bisa jadi karena brand-nya nggak punya posisi yang tajam di kepala audiens.


Customers sekarang punya banyak pilihan. Kalau brand kamu nggak punya posisi yang jelas, ya bakal tenggelam di antara yang lain, meskipun tampilan visualnya keren.


Repositioning Butuh Keberanian & Kejujuran


Yang bikin repositioning terasa lebih berat daripada rebranding adalah karena prosesnya mengharuskan kamu jujur tentang kekuatan dan kelemahan brand kamu sendiri. Banyak founder enggan repositioning karena takut kehilangan audiens lama, atau merasa sayang sama narasi awal yang udah dibangun.


Padahal, market terus berubah. Audiens kamu juga tumbuh. Kalau kamu tetap jalan di tempat, brand kamu bisa tertinggal.


Repositioning bukan berarti kamu harus buang semua hal yang udah kamu bangun, kok. Justru ini proses untuk menguatkan fondasi, supaya langkah ke depannya lebih solid. Kadang artinya mempersempit target, kadang artinya fokus ke value yang benar-benar resonate, bukan yang sekadar keren saat presentasi di depan investor.


Kuncinya bukan berubah asal berubah, tapi berani menyelaraskan identitas brand kamu dengan realita market dan arah bisnismu sekarang.


Repositioning Bukan Untuk Brand Besar Saja


Ada mitos yang bilang repositioning cuma perlu kalau brand kamu udah besar atau udah jalan bertahun-tahun. Padahal justru brand kecil atau growing brand sering banget butuh repositioning supaya bisa scale dengan benar.


Contoh sederhananya:

  • Brand lokal yang awalnya fokus jualan ke Gen Z, tapi ternyata lebih laku di kalangan young mom.

  • Brand produk skincare yang awalnya menonjolkan bahan alami, tapi market lebih connect ke hasil nyata yang cepat.

  • Brand F&B yang dari awal fokus desain kemasan lucu, tapi ternyata audiens repeat order karena rasanya, bukan estetikanya.


Dalam kasus seperti itu, repositioning bisa bantu kamu narik ulang benang merah agar semua elemen branding kamu (dari konten sampai campaign) beneran nyambung sama kekuatan utama brand.


Buatlah Strategi Branding yang Terarah


Kita hidup di era visual yang penuh noise. Tapi di tengah kebisingan itu, brand yang paling diingat bukan yang paling kenceng suaranya, tapi yang paling jelas. Dan kejelasan itu datang dari positioning yang kuat, bukan sekadar tampilan yang estetik.


Kalau kamu mulai merasa branding-mu kelihatan oke tapi nggak nyampe sasaran, mungkin saatnya berhenti sejenak dan bertanya:

“Apakah brand ini masih bicara dengan jelas ke audiens yang tepat?”


Kalau belum, repositioning bisa jadi titik balik untuk bawa brand kamu naik kelas tanpa harus ganti semuanya dari nol.


KLMSY Digital membantu brand-aware founder menyusun ulang brand positioning biar lebih terbaca, terarah, dan scalable. Kami nggak cuma bikin brand kamu kelihatan bagus, tapi juga berfungsi dengan baik.

bottom of page