top of page
KLMSY New logO-02_edited.png
KLMSY New logO-02_edited.png

Belajar dari Strategi Marketing Viral Amanda Brownies & Toshiba: Mengapa "Chaos Marketing" Adalah Masa Depan Branding 2026?

  • Writer: KLMSY Digital
    KLMSY Digital
  • 10 hours ago
  • 3 min read

Teknik marketing viral Amanda-Tokopedia-Toshiba di awal 2026
Teknik marketing viral Amanda-Tokopedia-Toshiba di awal 2026

Di awal tahun 2026, lanskap digital marketing Indonesia mengalami pergeseran seismik. Jika beberapa tahun lalu kita menganggap iklan billboard megah atau endorsement selebriti papan atas sebagai puncak strategi, hari ini realitanya berbeda. Fokus audiens beralih pada sesuatu yang lebih mentah, lucu, dan tidak terduga.


Fenomena viralnya interaksi antara Amanda Brownies, Tokopedia, dan Toshiba di media sosial menjadi bukti nyata bahwa di tahun 2026, keberanian brand untuk menjadi "manusia" jauh lebih bernilai daripada estetika strategi marketing yang terlalu rapi.


Mengapa Amanda Brownies Menjadi "Top of Mind"?


Amanda Brownies bukanlah pemain baru. Sebagai legacy brand yang dikenal dengan oleh-oleh khasnya, mereka punya risiko besar untuk terjebak dalam citra "brand jadul". Namun, strategi marketing viral yang mereka lakukan di awal 2026 adalah sebuah manuver rebranding psikologis yang cerdas.


Pertama, mereka mengadopsi konsep Humanized Branding secara total. Melalui akun media sosialnya, Amanda tidak lagi memosisikan diri sebagai toko kue, melainkan sebagai sosok kawan yang "nyeleneh". Salah satu puncak viralitasnya adalah saat mereka secara terbuka melakukan flirting atau interaksi romantis dengan akun resmi Toshiba TV.


Secara logika bisnis konvensional, tidak ada hubungan antara brownies kukus dengan peralatan elektronik. Namun, dalam ekosistem digital, interaksi lintas industri ini menciptakan apa yang disebut sebagai Cross-Pollination of Audiences. Audiens Toshiba yang mungkin sedang mencari TV baru, tiba-tiba terpapar narasi Amanda Brownies dengan cara yang menghibur. Hasilnya? Brand awareness yang melompat tanpa perlu biaya iklan programmatic yang membengkak.


Memanfaatkan "Sekte" dan Validasi User-Generated Content (UGC)


Strategi viral Amanda Brownies tidak berhenti pada interaksi antar-brand. Mereka memahami betul bahwa di tahun 2026, konsumen ingin dilibatkan dalam cerita sebuah brand. Ketika muncul tren cocoklogi netizen yang mempertanyakan jika Amanda adalah tempat pencucian uang, alih-alih menanggapinya dengan serius atau memberikan teguran, Amanda justru menegaskan eksistensinya selama 25 tahun dengan nada guyon khas media sosial.


Dengan memberikan validasi pada konten-konten aneh tersebut, mereka secara tidak langsung memicu gelombang User-Generated Content (UGC). Ribuan orang berlomba-lomba membuat konten kreatif (dan kadang kontroversial) demi mendapatkan perhatian dari sang admin. Dalam dunia marketing, ini adalah distribusi gratis yang didorong oleh ego dan rasa kepemilikan audiens terhadap brand.


Pelajaran Bagi Agency dan Pemilik Brand


Sebagai creative agency, fenomena ini memberikan kita tiga pelajaran fundamental untuk diterapkan pada klien di tahun 2026:


  1. Stop Being a Brand, Start Being a Character: Audiens tahun 2026 sudah sangat mahir memfilter iklan. Mereka akan melewati (skip) konten yang terasa seperti jualan, namun mereka akan berhenti pada konten yang terasa seperti percakapan manusia. Karakter yang konsisten adalah kunci engagement.


  2. Real-Time Marketing Adalah Kewajiban: Amanda Brownies tidak menunggu satu bulan untuk merencanakan campaign. Mereka merespons apa yang viral "detik ini juga". Fleksibilitas ini memerlukan tim kreatif yang diberikan kepercayaan penuh tanpa harus melalui birokrasi persetujuan yang berbelit-belit.


  3. Low-Context, High Impact: Terkadang, konten yang terlihat "asal" atau low-budget justru terasa lebih otentik. Di tengah gempuran konten AI yang terlihat terlalu sempurna, keaslian (authenticity) yang ditunjukkan melalui humor dan interaksi spontan adalah kemewahan baru.


Menuju Strategi yang Lebih Berani


Viralitas memang bukan satu-satunya metrik kesuksesan, namun di tahun 2026, viralitas adalah gerbang utama menuju top-of-funnel. Setelah audiens tertarik dengan "drama" yang disajikan, barulah brand bisa mengarahkan mereka ke arah konversi melalui kualitas produk dan kemudahan transaksi—seperti yang dilakukan Tokopedia dalam menyatukan konten hiburan dan belanja.


Fenomena Amanda Brownies dan Toshiba membuktikan bahwa chaos marketing atau pemasaran yang memanfaatkan sedikit kekacauan dan humor, jika dikelola dengan cerdas, dapat menghasilkan loyalitas brand yang tidak bisa dibeli dengan uang.


Kesimpulan


Dunia marketing tidak lagi searah. Ini adalah masanya percakapan dua arah yang penuh dengan kejutan. Jika brand Anda masih takut untuk keluar dari zona nyaman dan terlalu kaku dalam berkomunikasi, Anda berisiko menjadi tidak relevan di mata Gen Z dan Gen Alpha yang mendominasi pasar saat ini.


Ingin brand Anda menjadi pusat percakapan seperti Amanda Brownies? Kami di KLMSY Digital memiliki spesialisasi dalam membangun persona brand yang berani, relevan, dan visioner. Mari berdiskusi bagaimana kita bisa mengubah brand Anda menjadi "karakter" yang dicintai audiens. Hubungi kami sekarang untuk konsultasi strategi kreatif 2026!

bottom of page